Bagiku sebuah lagu berarti seseorang, suatu tempat tertentu dan suatu peristiwa. Dan bagiku lagu-lagu iwan Fals adalah suatu ruangan yang sempit, pengap, penuh oleh asap rokok dan barang serta peralatan naik gunung. Di dalamnya ada gudel (anak kerbau), bajul (buaya), jangkrik, Pitik (ayam) dan sebangsanya. Sehari-harinya di dalam ruangan itu hanya berisi gurauan, derai tawa, ocehan, umpatan, teriakan, namun tak jarang suara nyanyian berramai-ramai dengan iringan gitar terdengar pula. Tidak ada susah di sana. Bahkan hati dalam keadaan gundah gulanapun bisa berangsur cerah ceria begitu masuk ke dalam ruangan sekretariat pecinta alam (DIMPA).
Suatu ketika aku mendengar lagu Iwan Fals yang disetel anak-anak yang nongkrong di dekat rumah. Aku tidak tahan untuk melongok keluar rumah. Siapa sih yang nyetel iwan Fals itu? Aku mendapati sekelompok anak muda yang nongkrong, ngobrol seruh,sambil ngerokok dan minum minuman berwarna hitam dalam gelas beling. Kopi, atau minuman tertentu? Aku sempat menbak-nebak. Tidak ada gudel, bajul, gepeng,pitik, jangkrik atau siapapun. Ada seseorang di antara mereka yang gondrong dengan kemeja kotak-kotak dari bahan flanel. Bukan. Bukan anak-anak Dimpa. Dia namanya Waryo ternyata. Dia juga suka naik gunung, katanya.
"Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang di hari ini
Adakah dia kan slalu setia
Bersanding hidup penuh pesona
Harapanku
Jangan kau tak menepati janji
Datanglah dengan kasihmu
Andai kau tak datang kali ini
Musnah harapanku "
*) Terima kasih yang tak terhingga untuk panitia DIKLATSAR DIMPA yang telah meluluskan aku menjadi anggota DIMPA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar