Beberapa hari ini aku selalu terbangun sekitar jam tiga pagi. Selalu pada sekitar jam-jam tiga buta. Biasanya aku ke kamar mandi. Pipis, lalu balik lagi ke tempat tidur. Tersirat keinginan untuk melakukan sholat malam. Namun sudah terlanjur menempel di atas kasur, enggan rasanya untuk bangkit lagi. Seribu satu alasan dibisikkan setan ditelingaku untuk tetap pada posisi dibawah selimut, kembali meneruskan tidur dengan nyaman. Besok saja sholatnya, bisikan setan membius telinga hatiku. Sholat tahujud, lewat. Sholat dluha, lewat pula. dan puasa sunah Senin-Kamis pun juga lewat. Hanya terucap sebatas niat di hati belaka tanpa ada pelaksanaan nyata.
Suatu ketika perasaan berdosa pun menghinggapiku. Aku takut tiba-tiba Allah marah kepadaku. Meski bukan perbuatan maksiat yang kulakukan, tapi tidak menepati janji pun, mungkin bisa saja nanti Allah akan marah dan tidak memperdulikanku, bahkan menjauhiku.
Aku sengaja tidur agak sore dalam rangka menepati janjiku. Kupasang alarm di handphone pada jam dua dini hari. Sebelum benar-benar terlelap aku berdoa," Ya Allah bangunkan untuk sholat tahajud semat-mata karena aku ingin bersyukur kepadaMu dan ingin menunjukkan bahwa aku mencintaiMu melebihi apapun di dunia ini." Namun ketika alarm itu meraung-raung, aku malah mematikan alarm lalu kembali terbaring. "Sebentar lagi," kata hatiku mengikuti bisikan setan yang bertengger di telingaku. Sedetik aku kembali pulas. Sepuluh menit, sesuatu membangunkan kembali kesadaranku. Sebenarnya aku sama sekali nggak ngantuk. Aku juga berniat untuk bangun dan pergi ke mar mandi dan mengambil air wudlu. Tapi masih jam dua lewat sepuluh menit. Setengah jam lagi aku masih bisa melakukannya. Waktu sholat tahajud kan sampai mendekati waktu subuh? Aku kembali terkubur di bawah selimut. Dan pas sepuluh menit kemudian aku kembali terjaga. benar-benar terjaga. Aku duduk di penggir tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi. Seperti ada yang menuntunku, tanganku bergerak membuka kran dan jemariku kutadahkan dibawah kucuran air. Kubasuh wajahku, tanganku, telingaku, ubun-ubunku, tengkuk, juga kakiku. Setela itu aku ke ruang mushola, memakai mukena dan berdiri di atas sajadah siap bersholat.
Ketika mengangkat kedua tangan dan menyeru lirih kalimat takbiratul ihram, "Allaahu akbar!" hatiku bergetar. Keheningan malam seakan meruntuhkan dinding-dinding hatiku. Dan bacaan iftitah semakin memporak porandakan perasaanku. "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah, penguasa alam semesta," Air mataku berleleran tiada henti mengingat janji itu. Ya, setiap hari paling tidak sebanyak lima kali kita berjanji dihadapan Allah untuk menyerahkan diri kita semata-mata untukNya.
Selesai melakukan salam, aku diam merenung. Aku merasakan kehadiran Allah di hadapanku. Apa dia tersenyum? Apa dia masih marah? Oh, Ya Allah, maafkan aku. maafkan semua kesalahanku. Ampuni semua dosaku. Sudah lama aku melupakanMu, dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bisa saja membuat Engkau kesal dan mencabut semua nikmat yang telah kau taburkan dalam diriku, dalam kehidupanku. Aku menjadikan sholat hanya sekedar rutinitas, karena aku selalu diburu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan duniaku. Dalam sholatku, aku tidak pernah sungguh-sungguh menemuiMu seperti sekarang ini. Maafkan aku ya Allah, ampunilah diriku.
(Entahlah, aku tidak mengerti bagaimana orang setiap hari melaksanakan sholat, tapi di sisi lain dia juga masih berbuat dosa. Tidak sadarkah kita bahwa Allah selalu menagih janji kita? Janji untuk melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah? Janji dalam sholat kita bahwa, "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata untuk Allah?" Apa mereka mencuri, menipu, korupsi, dan sebagainya itu dilakukannya karena Allah? Bertobatlah, bertobatlah, maka Allah akan menyelamatkan kita). ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar